Sekum PP ‘Aisyiyah: “Berkhidmat di lembaga publik adalah amanah kekhalifahan.” Ketua LPPA: “Kader kita mampu, tapi perlu ditingkatkan rasa percaya dirinya.”
YOGYAKARTA (kupass.com) – Untuk mendorong lebih banyak kader perempuan berkiprah di lembaga-lembaga publik, Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menggelar Madrasah Politik Perempuan. Acara yang diadakan secara daring pada Sabtu (4/10/2025) ini bertujuan untuk menjaring dan mempersiapkan kader-kader potensial untuk berkhidmat di institusi strategis seperti KPU, Bawaslu, KPI, hingga Komnas Perempuan.

Kegiatan yang diikuti oleh 92 peserta dari seluruh Indonesia ini merupakan bagian dari Program INKLUSI ‘Aisyiyah.
Amanah Kekhalifahan di Ruang Publik
Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, menegaskan bahwa peran perempuan di ruang publik memiliki landasan teologis yang kuat. Menurutnya, ini adalah bagian dari amanah kekhalifahan yang diemban oleh laki-laki dan perempuan.
“Baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran sebagai khalifah di muka bumi, dan kekhalifahan itu salah satunya diwujudkan dengan berkhidmat lewat lembaga-lembaga publik,” ujar Tri Hastuti.
Ia menambahkan bahwa pandangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terhadap politik sudah jelas termaktub dalam khittah (garis perjuangan) organisasi, yang menegaskan posisi sebagai organisasi dakwah non-partisan namun mendorong kadernya untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Membangun Kapasitas dan Rasa Percaya Diri

Ketua LPPA PP ‘Aisyiyah, Siti Syamsiyatun, menjelaskan bahwa madrasah politik ini adalah wahana strategis untuk meningkatkan kapasitas kader. Tujuannya adalah merumuskan strategi dan menjaring kader yang tertarik serta potensial untuk mengisi jabatan publik.
Ia mengidentifikasi salah satu tantangan utama yang harus diatasi. “Sebetulnya kapasitas kader kita bagus dan memiliki kemampuan, tetapi mungkin rasa percaya dirinya (kepedeannya) yang agak kurang. Karena itu, para narasumber akan membantu memberi pencerahan dan tips agar kader kita bisa berhasil, bukan sekadar menjadi penggembira,” tegas Syamsiyatun.
Investasi Jangka Panjang, Bukan Sekadar Penuhi Kuota
Tri Hastuti mengapresiasi langkah LPPA yang proaktif dalam menyiapkan kader. Menurutnya, ini adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang, bukan langkah instan untuk sekadar memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan di politik.
“Tidak pas kalau baru ketika partai politik kekurangan 30% kepemimpinan perempuan, baru sibuk mencari calon. Partai politik juga harus berinvestasi lama untuk menumbuhkan orang-orang yang mumpuni, tidak bisa tiba-tiba nobody jadi somebody tanpa proses,” kritiknya.
Ia berharap, kader ‘Aisyiyah yang nantinya berkiprah di lembaga publik dapat terus membawa nilai-nilai luhur organisasi. “Bagaimana ‘Aisyiyah dapat mewarnai, menjaga marwah organisasi, berintegritas, jujur, dan bekerja dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.
